Promosi Kesehatan Dilakukan Imbas Kekeringan di Sejumlah Wilayah Bali

Bali – Kemarau panjang yang dipicu El Nino membuat Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Bali bergerak cepat. Tak hanya menyalurkan bantuan air bersih, PMI juga merespon dengan memberikan pelayanan promosi kesehatan kepada 3 wilayah terdampak, yakni Kabupaten Jembrana, Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Karangasem.

Pelayanan promosi kesehatan ini disambut baik oleh masyarakat. Hingga 31 Agustus 2026, posko PMI mencatat ada sekitar 4.934 warga yang telah mendapatkan manfaat dari total 27 layanan yang telah dilakukan. Jangkauan terluas berada di wilayah Jembrana yang menyentuh sebanyak 2.669 warga, di mana didominasi kelompok usia produktif dan anak-anak. Sementara itu, edukasi di Buleleng berhasil menjangkau sebanyak 1.043 jiwa, dengan fokus utama perlindungan pada kelompok rentan lainnya. Hal serupa juga dilakukan di Karangasem dengan total penerima manfaat mencapai 1.222 jiwa. Total sebanyak 126 relawan PMI yang telah dimobilisasi dalam pelayanan ini.

Mengingat keterbatasan air bersih sangat rentan memicu penyakit, PMI menjadikan kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, dan penyandang disabilitas sebagai prioritas utama perlindungan. Agar pergerakan relawan tidak salah sasaran, tim memetakan wilayah terdampak menggunakan Dashboard Posko Penanggulangan Bencana PMI SIMBA (Sistem Informasi Manajemen Bencana). Sistem pemetaan ini sangat membantu relawan dan pemerintah daerah untuk memprioritaskan penyaluran edukasi kesehatan ke desa-desa yang memiliki kerentanan.

I Ketut Suardana selaku Kepala Divisi Bidang Penanggulangan Bencana, Relawan dan Diklat PMI Provinsi Bali menyampaikan promosi kesehatan yang diberikan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), penggunaan air bersih yang bijak, pencegahan penyakit di masa kekeringan dan mengenali tanda-tanda dehidrasi. 

“Kegiatan promosi kesehatan ini kami lakukan bersamaan dengan pelayanan atau distribusi air bersih, sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan bantuan air, tetapi juga mendapatkan pengetahuan bagaimana menggunakan dan mengelola air tersebut secara aman dan higienis.”, ungkapnya.

Dalam pelaksanaannya, PMI terus berkoordinasi pemerintah daerah dan linta sektor terkait agar edukasi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.

Kunci utama dari kegiatan ini bukan sekadar terlaksananya pelayanan di lapangan, melainkan bagaimana masyarakat benar-benar paham terkait dengan penggunaan air secara bijak dan respon yang bisa dilakukan saat kekeringan melanda wilayahnya. (liza)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *