NAGEKEO — Suara riang anak-anak terdengar dari bawah tenda darurat di halaman SDK Wolorae, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di balik keceriaan yang dihadirkan lewat lagu dan permainan edukatif, tersimpan realita berat yang masih harus dihadapi warga: bayang-bayang kekhawatiran akibat gempa susulan yang belum kunjung usai.
Hingga saat ini, sebagian besar siswa dan guru di wilayah tersebut memilih untuk mengungsi secara mandiri. Mereka berdiri di bawah tenda atau tempat penampungan sementara di halaman rumah masing-masing karena masih diliputi rasa takut, sedih, dan cemas saat harus beraktivitas di dalam bangunan.
Rasa takut yang dialami masyarakat Nagekeo bukanlah tanpa alasan. Catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa aktivitas gempa susulan (aftershocks) masih terus terjadi di wilayah Flores dan sekitarnya pasca-gempa utama bermagnitudo 7,7 SR.
Hingga pertengahan September 2026, BMKG mencatat lebih dari 15.200 kali gempa susulan mengguncang wilayah NTT, dengan ratusan di antaranya getarannya dirasakan langsung oleh warga. Kondisi tanah yang terus bergetar ini membuat para penyintas memilih bertahan di area terbuka demi keamanan keluarga.
Meski duka dan rasa khawatir masih menyelimuti kehidupan sehari-hari, semangat para siswa dan guru untuk melanjutkan proses belajar mengajar tidak pernah surut. Kelas-kelas kini dipindahkan ke tenda darurat di lingkungan sekolah.
Melihat ketangguhan tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) menerjunkan tim gabungan pada Kamis (17/9) untuk mendampingi 117 penyintas (101 siswa dan 16 guru). Tim memberikan giat edukasi kesehatan sekaligus Dukungan Psikososial (Psychosocial Support Service/PSS) untuk merawat semangat mereka.
Materi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) disampaikan secara interaktif melalui permainan kolom edukatif. Materi yang diberikan mencakup pencegahan risiko rabies melalui penanganan awal Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR), upaya menjaga kesehatan pencernaan dengan langkah-langkah pencegahan diare selama berada di penampungan darurat, serta edukasi sanitasi dasar melalui praktik dan latihan cuci tangan enam langkah.
Sesi PSS juga diisi dengan bernyanyi dan permainan kelompok untuk menguatkan mental anak-anak, sekaligus mendampingi para guru agar siap saling menguatkan dalam proses belajar-mengajar di kondisi darurat.
Aksi kemanusiaan ini melibatkan kolaborasi relawan PMI dari Bali, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Lampung Selatan, serta relawan lokal PMI Kabupaten Nagekeo. Kehadiran tim lintas daerah ini sekaligus menjadi sarana pelatihan (coaching) bagi relawan lokal agar pendampingan psikososial dan promosi kesehatan dapat terus berjalan secara mandiri.
“Antusiasme anak-anak dan guru yang tetap semangat mengajar di bawah tenda sungguh menginspirasi kami. Meski masih mengungsi di halaman rumah karena cemas akan gempa susulan, ketangguhan mereka menjadi dorongan bagi kami untuk terus hadir mendampingi,” ujar I Ketut Sassu Budi Satwam, Koordinator Layanan PSS dan Promosi Kesehatan.
Kegigihan warga SDK Wolorae menjadi bukti nyata bahwa di tengah kepungan belasan ribu gempa susulan, api semangat belajar dan harapan untuk bangkit bersama tetap menyala di tanah Nagekeo.