Workshop SOP untuk Sistem peringatan Dini Tsunami


Foto bersama setelah kegiatan

Pemerintah Republik Indonesia dalam kaitan tsunami tidak henti-hentinya melakukan pengembangan program untuk Sistem peringatan dini (early warning system) sampai dengan taraf proses pengembangan pre emergensi untuk identifikasi Standar Operasional Prosedure (SOP) untuk membuat bagaimana beberapa elemen penanganan bencana yang ada dapat bekerja efektif dilapangan dengan pembagian tugas yang jelas diatur di dalam SOP sehingga tidak terjadi kebingungan ketika di lapangan.

Untuk hal tersebut digelar kegiatan bertajuk Workshop SOP untuk System Peringatan Dini Tsunami. Hal ini tentu dilatarbelakangi oleh kejadian luar biasa yang ada di Aceh dan Sumatera Utara, dimana Tsunami telah merenggu ribuan nyawa karena Tsunami datang dengan tiba-tiba, sedangkan disisi lain Indonesia belum mempunyai system peringatan dini yang bagus untuk menyelamatkan ribuan masyarakat tersebut. Dengan berpengalaman pada kejadian Aceh, rupanya masih menyisakan hal yang cukup menghebohkan dengan terjadinya Tsunami di Pantai Pangandaran- Jawa Barat. Dan lagi-lagi ribuan korban jatuh karena hal ini.

Dengan adanya workshop ini, diupayakan terjalin kerjasama yang bagus antar lintas sektoral serta elemen terkait untuk saling berkoordinasi baik sebelum, pada saat serta pasca terjadinya upaya dengan saling tutup menutupi antar bagian tugas masing-masing.

Kegiatan workshop berasal dari 3 area yaitu Aceh, Padang, dan Bali yang dianggap representative serta beberapa elemen kuncil dalam penanganan Tsunami seperti BMG, BAKORNAS, LIPI, RISTEK serta PMI. Kegiatan ini juga menarik banyak sponsor yang terdiri dari PMI/IFRC, GTZ early warning system, UNDP asia regional office, dan USAID/Asia-Indian Ocean Tsunami Warning System Program.

Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 12-13 Oktober 2006 dengan mengambil tempat di INNA Sindhu Beach, Jl Pantai Sindhu No 14 Sanur Bali, dan dengan total peserta berjumlah 30 orang. Kegiatan dimulai dengan penyampaian masing-masing wilayah yaitu Aceh, Padang dan Bali yag dilanjutkan dengan review serta penyampaian persentasi-persentasi terkait Early Warning System, sampai pada akhirnya akan dihasilkan rekomendasi untuk pelaksanaan SOP dan tindak lanjutnya.

Upaya-upaya untuk memperbaiki kinerja lapangan serta koordinasi yang ada banyak dilakukan, tentu kedepan akan bisa menjadi hal nyata dimana koordinasi serta penerapan SOP yang ada benar-benar dapat menjadi suatu upaya yang maksimal untuk mengurangi timbulnya korban pada kejadian bencana khususnya Tsunami. p

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *